cepat kaya, gabung disini

Senin, 29 Oktober 2012

AL-KINDI: Integrasi Agama dan Filsafat

Belajar Iklan Di Facebook 468x60 Paket Minyak Cinta 728x90Belajar Iklan Di Facebook 468x60
Tokopedi Scraper 300 x 250
AL-KINDI: Integrasi Agama dan Filsafat
JIM Smart BBM A.    Pendahuluan
Pada dasarnya manusia adalah makhluk ciptaan yang paling sempurna jika di bandingkan dengan ciptaan Tuhan yang  lain, manusia mempunyai akal yang sempurna dan di dampingi dengan naluri hati yang sangat membantu dalam segala aspek. Akal manusia adalah produk yang paling istemewa, sampai sekarang para ilmuan baik dalam bidang kedoktoran_tidak ada yang mampu menggaris bawahi sampai mana nalar sebuah otak, seberapa dalam dan luas tingkatan individu yang tertera dalam otak kecuali hanya mampu mempredeksi jumlah sel dan keajaiban otak.[1]
JIM Smart BBM
JIM Smart BBM Otak yang berada di dalam kerangka kepada yang  hanya di isi oleh lemak dan di hiasi dengan miliyaran sel-sel: dapat menembus berbagai macam aspek­_baik dalam Teknologi, Sains dan yang lain. Kategori akal yang dalam bahasa MantiqNya (Nathiq) sangat sekali berpengaruh dalam segala aspek dan realita kehidupan, hidup tanpa berpikir bagaikan mayat yang  tergeletak tanpa daya dan cita-cita. Kehidupan manusia pasti di sertai dengan adanya sebuah pemikiran baik di ketahui atau tidak di ketahui, oleh karena itulah sebuah pemikiran yang benar mampu merubah kehidupan manusia baik dari aspek materi maupun metafisik.
Berpikir dengan benar dinamakan: Filsafat. Karl Britton mengatakan bahwa filsafat adalah lentera kehidupan,[2]selain itu, ada sebuah kata-kata yang membuat hati bergetar, sebuah kata-kata dari Prof. Dr. R.F. beerling; “jika kita hendak memahami sesuatu tentang dunia maka kita harus mengetahu tentang filsafatnya, jika kita tahu tentang filsafatnya, maka tahu pula kita tentang dunia, sebab filsafat hanyalah dapat di dalam pola pikir manusi”,[3]  secara akar, pada mulanya Filsafat berawal dari Yunani, yang mengatakan bahwa mula-mula filsafat itu muncul di kerakan bahwa adanya ketakjuban[4], keraguan, berpikir kritis, dari Yunani sendiri.[5] Tetapi dalam kategori pikiran, maka bukan hanya yunani yang mampu untuk berfilsafat. Di Yunani hanyalah tempat lahir sebuah nama: Filsafat dan sebuah awal motifasi bahwa: berpikir pada dasarnya diwajibkan bagi seluruh manusia. Ketika membicarakan sebuah nama dari Filsafat, maka, ada sumber rujukan yang menjadi sebuah sejarah yang sangat berdalil untuk di jadikan sebuah konsep keilmuan, baik di Yunani maupun di negara Muslim sendiri. Perbeda’an zaman bukanlah hal yang sangat berpengaruh bagi filsafat, seperti tang telah di katakan oleh Hegel; “Tiap-Tiapa Fislafat adalah zamannya, yang di sampaikan berupa buah pikiran”[6]
JIM Smart BBM Umumnya setiap ilmu mempunyai sasaran utama bagaimana muntahan peluru ilmu tepat dengan sasarannya, begitu juga filsafat,[7] ada objek-objek tertentu untuk memuntahkan cara pikirnya dalam dua objek, pertama, Material, kedua, Formal. Saefuddin Ashari mengatakan bahwa objek material adalah sarwa yang ada_pada dasarnya dapat di bagi dalah Tiga persoa’alan pokok, Pertama, Hakikat Tuhan, Kedua, Hakikat Alam, Ketiga, Hakikat Manusia.[8] Formal; adalah mencari keterangan sedalam-dalamnya hingga ke akarnyatentang objek material filsafat, baik secara keterangan yang mungkin ada dan mungkin tidak ada.[9]
JIM Smart BBM
Sejarah menjatat bahwa di pihak Muslim sendiri ada seorang yang dilatar belakangi sebagai orang pertama yang menberi pengertian tentang devenesi filsafat dan memberikan lapangan teori dalam kerangka berpikir: Al-Kindi.[10]
Sebuah pertanyaan  besar, siapa sebenarnya Al-Kindi? Bagaimana cara berpikir Al-kindi dalam konteks FilsafatNya?
JIM Smart BBM B.     Al-Kindi (796-873) ; Periode Skolastik Islam
Banyak sekali filosof muslim yang berkarya di bidang pemikiran hingga nama mereka di cantumkan sebagai Filosof Muslim, di antaranya adalah Al-kindi, berdasarkan literatur sejarah mengenai nisab_Al-kindi, beliyau mempunyai nama lengkap Abu Yusuf Ya’qub bin Ishaq bin Ash-Shabah bin ‘Imran bin isma’il Bin Muhammad bin Al-Asy’ats bin Qeis Al-Kindi beliyau berasal dari kabilah Kindah, suku bangsa yang sebelum Islam bermukim di arab selatan,[11] dan di kategorikan sebagai kabilah terpandang dimasyarakat arab  pada zamannya dan bermukim di daerah Yaman dan Hijaz.
Ayah Al-kindi sendiri adalah gubernur Kuffah pada masa preode pemerintahan Al-Mahdi dan Harun Al-Rasyd dan neneknya sendiri adalah raja-raja di daerah Kindah dan sekitarnya.[12] Sesepuh Al-kindi yang di kategorikan paling dini memeluk Islam adalah Al-Asy’ats bin Qeis seorang yang diutus oleh kabilah Kindah kepada Rasul Allah saw.
JIM Smart BBM Al-Asy’ats termasuk salah seorang sahabat nabi yang pertama kali datang ke kota Kufah dan juga di kenal sebagai salah seorang  yang pernah meriwayatkan Hadist Nabi saw. Bersama-sama dengan Sa’ad bin Abi Waqqash di samping demikian ia juga termasuk pejuang peranng melawan Persia di Iraq. Dalam perang Siffin di bawah komando Ali bin Abi Thalib dan ia juga di percaya sebagai pemegang panji kabilah Kindah (Kabilah dia sendiri) ia Juga turut berpihak pada Ali bin Abi Thalib ketika melawan pemberontakan kaum Khawarrij di Nahrawan.
Anak lelaki Al-Asy’ats yang di beri nama Muhammad pernah di angkat oleh Abu Zubair sebagai penguasa negri di daerah Maushil (Iraq). Kemudian pada tahun 85 H. Anak lelakinya yang lain_Abdurrahman bin Al-Asy’ats melancarkan pemberontakan terhadapp Al-Hajjay bin Yusuf (Penguasa bani Umayyah di kawasan Hijaz dan Iraq) hingga terbuuh dalam pemberontakan tersebut. Sejak itulah literatur sejarah mencatat bahwa semua zuriyat (Keturunanan) Al-Asy’ats (Bani Al-Asy’ats) tidak mempunyai kedudukan lagi di kalangan di nasti Bani Umayyah di karenakan adanya pemberontakan tersebut.[13]
JIM Smart BBM Meskipun hal demikian telah terjadi, akan tetapi kabilah Al-Kindi tetap di hormati masyarakat luas pada zaman itu khusunya di Kufah, demikianlah yang terjadi hingga bergantinya kedaulatan di Nasti dari Bani Umayyah hingga Bani Abbas, di masa Bani Abbas inilah kabilah Al-kindi mulai mendapatkan kehormatan kembali di kawasan kerjaan, [14]  Al-Kindi mempelajari mengkaji berbagai ilmu keagamaan baik dari hukum Syara, teologi. Bahkan ia turut ambil andil dalam menyumbangkan pola pikirnya berupa Filsafat ke dalam Khazanah islam di kanja keilmuan, di samping demikian ia jua menerjemahkan buku-buku, baik dari buku yang berbahasa Yunani (Filsafat). Dengan sebab inilah para sejarahwan mengatakan Al-Kindi sebagai penerjemah.[15]
Ibnu Abi Usaibi’ah (w. 668 H. Pengarang kitab Tabaqatal Atibba, mencatat bahwa ada empat penerjemah yang sangat piawai sekkali pada masa itu (Masa penerjemahan): Al-Kindi,  Hunain bin Ishaq, Tabit bin Qurrah, Umar bin Farkhan at-Tabari, aktifitas Al-Kindi yang berdasarkan  pada literatur sejarah mengatakan bahwa Al-Kindi di samping penerjemah ia jua sering menjelaskan dan menyimpulan kembali hal-hal yang di kandung oleh terjemahan tersebut, setelah itu maka beliyau mampu untuk mengarang sendiri sebuah karya yang sangat berbau dengan ke_Filsafatan.[16]
Tidaklah heran jika seorang Al-Kindi menguasai banyak sekali ilmu pengetahuan, di karenakan bahwa Al-kindi hidup di antara dua kota besar pada saat itu Kufah dan Basrah berkembangnya ilmu pengetahuan,[17] khususnya pada ilmu Aqliyah dan kimia, Al-Kindi sendiri mempunyai karya tulis dalam bidang ilmu tersebut, hingga sekarang karyaNya masih di terbitkan (Chemical aromatic) di terbitkan lagi dalam bahasa Jerman Leipzig, setelah Al-kindi berpindah ke kawasan Baghdad maka beliyau berkecimpung di dunia pendidikan ilmu dan filsafat,JIM Smart BBMhref="http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=5678771133785942905#_ftn18" name="_ftnref18" style="mso-footnote-id: ftn18;" title="">[18] dalam suasana yang ppenuh pertentangan agama dan mazhab dan yang di hujani oleh  paham aliran Mu’tazilah serta doktrin-doktrin Syi’ah.[19]
Mengenai hubungan sosial Al-Kindi dengan khalifah Al-makmun dan khalifah berikutnya, Al-Mu’tasim memberi dorongan penuh kepada Al-Kindi terutama hubungannya dengan putra Al-Mu’tasim yang bernama Ahmad, Ahmad adalah anak didik khusus bagi Al-Kindi, historisnya bahwa Al-Kindi sendiri banyak memb erikan hasil karyanya untuk anak didiknya tersebut. Pada permasalahan ini Ibn Nubatah mengatakan dalam bukunya yang berjudul Syarhul ’Uyun  “kerajaan Al-Mu’tasim di perindah dengan adanya karya-karya dari Al-Kindi sendiri, nama Al-Kindi sendiri terus semerbak hingga ke khalifah berikutnya (Al-Mutawakkil)[20] hingga sekarang.
JIM Smart BBM Pada masa khalifah (Al-Mutawakkil) muncul ada isu-isu ytang tidak mendukung terhadap Al-Kindi, sebab itulah karya-karya Al-Kindi dalam sebuah perpustakaan yang di namakanNya dengan Al-Kindiyyah di sita kemudian di jadikan milik Al-Muatwakkil sendiri. Tak di ragukan lagi  secara rasio saja tentu perpustakaan yang di milii oleh Al-Kindi di penuhi dengan buku-buku berharga dan juga sangat banyk  hasil karya Al-kindi sendiri, sebab utama perpustakaan Al-Kindi di sita: banyaknya orang yang dengki dan iri hati terhadap diriNya.[21]
C.    Karya Al-kindi
Manusia pada umumnya di ciptakan di sertai dengan kelebihan baik yang di sadarinya atau yang tidak, keragaman pola sifat dan tabi’at menjadikan jarak tempuh utama untuk mengetahuui dasar andil kelebihan tersebut, salah seoraang yang menemukan kelebihan tersebut: Al-Kindi mampu mengkaryakan hasil keilmuanNya ke dalam lembaran-lembaran. Dalam karya Ahmad Hanafi, jumlah karya Al-Kindi pada dasarnya sangat sukar di tentukan karena ada dua faktor.[22] Pertama, penulis-penulis Biografi tidak ada yang sepakat mengenai jumlah karangan yang telah di karyakan oleh Al-Kindi: Ibn An-Nadim dan Al-Qafthi_menyebutkan: 238 Karya. Sa’id Al-Andalusi: 50 Karya, perbedaan di pacu karena tidak  ada bukti bahwa karya Al-kindi secara materi (Berbentuk Buku): Musnah. Kedua, di antara karangannya yang telah sampai kepada kia ada yang memuat karangan-karangan lain.[23]
Karangan-karangan Al-Kindi bermacam-macam baik Filsafat, logika, musik, matematika, dan lain-lain. Di katakan bahwa Al-Kindi tidak terlalu rumit membicarakan persoalan filsafat,  tetapi ia lebih tertarik pada definisi-definisi dan penjelsan kata-kata, dan lebih menyelami problem filsafat, pada umumnya karya-karya Al-kindi berbbau ringkas dan tidak mendalam[24], di karenakan banyak sekali karya-karya Al-Kindi yang telah hilang inilah faktor utama bagi orang lain untuk menilai secara akurat mengenai karya Al-Kindi. Tetapi saya sebagai penulis ini membantah ulasan yang mengatakan Al-Kindi tidak terlalu piawan dalam bidang filsafat ini, karena, jika seseorangf tidak ahli dalam bidang tersebut, tidak akan mungkin seseorang tersebut mendapatkan gelar sebagai ahli dari ilmu tersebut.
Seorang doktor bedah tidak akan pernah mendapatkan gelar ahli bedah tanpa adanya keahlian dalam membedah. Al_Kindi tidak akan pernah mendapatkan gelar sebagai orang pertama mengkaryakan argumen Filsafat tanpa ahli dalam filsafat. Dan pada bukti sekarang Al-Kindi menjadi salah satu yang diBiografikan sebagai ahli Filsafat.
JIM Smart BBM Al-Kindi juga di kenal sebagai orang yang pertama dalam dunia islam yang memberi argumen FilsafatNya_tentang kritikan terhadap karya-karya filosof di masa belakang.  karanganNya yang dikenal di  temukan oleh Ketimuran Jerman: Hillmuth Ritter_di perpustakaan: Aya Sofia_Istambul yang berisi 29 Karya dalam bentuk Risalah.
Beberapa karya Al-Kindi yang di tulisnya atau telah di terjemahkan ke bahasa lain adalah:
1.      Kitab Kimia’ Al-‘Itr (Book of the of perfume)
JIM Smart BBM
2.      Kitab fi Isti’mal Al-Adad Al-Hindi (Onn the use of the Indian Numerasals)
3.      Risala fi Al-Illa Al-Failali Al-Mada wa Al-Fazr (Treatise on the Effecient cause of the Flow and Ebb)
JIM Smart BBM 4.      Kkitab Ash-Shu’a’at (Book of the Rays)
5.      The Medical Formulary of Aqrabadhim of Al-Kindi, by M. Levey (1966)
6.      Al-Kindi’s Metaphyscs: a Tranlation of Yaqub ibn Ishaq al-Kindi’s Treatise “On First Philosophy” (Fi Al-Falsafah al-Ula), by Alfred L.  Ivry (1974)
JIM Smart BBM 7.      Scentific Weather forecasting in the middle Ages The Writings of Al-Kindi, by Gerrit Bos and Charles Burnett (2000)
JIM Smart BBM
8.      Al-Kindi’s Treatise on Cryptanalysis, by M, Mrayati, Y, meer Alam and M. H. At-Tayyan (2000).[25]
D.    Pandangan Al-Kindi Tentang Filsafat
Pemikiran Al-kindi sangatlah luas dan besar lagi mendasar terutama dalam bidang filsafat, fisika, metafisika, epistimologi dan etika, Al-Kindi berusuha mempertemukan antara fislafat dengan agamak hususnya Islam sendiri. Al-Kindi berpendapat bahwa fisafat adalah ilmu yang mencari kebenaran atau bisa di katakan ilmu yang tertinggi martabatnya dalam hal berpikir; agamapun juga membicarakan tentang teori kebenaran, “Tidak ada yang lebih utama bagi orang yang mencari kebenaran daripada kebenaran itu sendiri”, “Orang yang meningkari kebenaran karena itulah dia menjadi kafir”[26]
JIM Smart BBM
Menurutnya filsafat adalah Ilmu mulia yang tidak bisa di tinggalkan oleh orang yang berpikir, antara filsafat dan agama tidak ada pertentangan, ilmu Tauhid atau Teologi adalah cabang termulia Fislafat, filsfat membahsa tentang kebenaran atau hakikat kalau ada hakikat-hakikat pasti ada hakikat yang utama, hakikat utama itu adalah tuhan,  Al-Kindi jua membicrakan maslah Jiwa dan akal. Al-Kindi banyak di pengaruhi oleh filsafatnya Arestotels, Plato dan neo-Platinoesme di katakan bahwa dia adalah orang pertama yang mengikut Aristoteles.[27]
Al-Kindi pada umunya banyak sekali menyajikan definisi filsafat tanpa menyatakan goresan mana yang miliknya, tetapi yang muncul dalam teori definisi filsafat Al-Kindi adalah maksud dari filsafat di masa sebelumnya, itupun tanpa ada referensi dari mana ia dapatkan defenisi tersebut, sebuah ilusi yang matang bagi sebuah pemikiran Al-Kindi adalah; dengan adanya defini yang sangat bnyak, maka akan mempermudah bagi individu untuk membongkar apa sebenarnya filsafat itu, baik secara etimologi maupun termenologi. Definisi Al-Kindi adalah:[28]
a.       Filsfat adalah upaya manusia meneladani perbuatan tuhan sebatas mana panca indra manusia dapat menjangkau dengan semaksimal mungkin, definisi adalah bersifat funsional, meninjau filsafat dari aspek reallita manusia.
JIM Smart BBM
b.      Filsafat adalah latihan untuk mati, berenang merenangi per4cerain ruh dengan badan,  atau mematikan hawa nafsu untuk  mencapai jalan yang paling utama dalam segi ketuhanan agar mendapatkan ilmu yang hakiki pada dasarnya. Ini juga bersifat fungsional yang berpusat titik pada realita dalam aspek tingkah laku manusia.
JIM Smart BBM c.       Fisfat adalah_pengetahuan dari segala pengetahuan dankebijaksanaan dar segala kebijaksanaan, definisi ini bertitik tolak  dalam segi hukum kausa.
d.      Filsfat adalah  ukuran untuk memperoleh pengetahuan dalam tujuuan utma adalah aspek dirinya sendiri, titik utama adalah mengenal dirinya sendiri dalam segalaaspek dan real. Para ppakar filosof mengumukakan bahwa; dari sinilah keberangkatann definisi manusia adalah badan, jiwa, dan aksedinsia, manusia yang mengetahui dirinya sejara gamblang dan sempurana maka_ akan mengetahuai segala sesuatu, inilah yang di namakan manusia “Mikrokosmos” oelh para_Filosof.[29]
JIM Smart BBM E.     Alur Pikir Al-Kinndi: FilsafatNya
Setelah di huraikan secara global mengenai biodata dan hasil dari karya Al-Kindi, disinilah ruang untuk membahas lebih jauh mengenai silabi pikir_Al-Kindi (Filsafat). Al-Kindi telah mampu menjadikan filsafat dan ilmu Yunani menjadi sangat mudah di ahami dan di jadikan bahan pijakan di zamannya hingga sekarang yang telahmembangun fondasi sendi berfilsafat dalam islam dari sumber-sumber yang sangat jarang dan sulit. Kemudian setelah itu di lanjutkan kembali oleh Al-Farabi dam meninjau ulang filsafat yang telah di rumuskan oleh Al-Kindi. [30]
JIM Smart BBM Pada dasarnya Al-Kindi sendiri mempunyai refrensi bahan dari filsafatnya yaitu sumber-sumber dari Yunani Klasik, terutama di bidang Neoplatonik, dalam hasil karyanya “Risalah fi Al-Hudud Al-asya”[31]. Ia di duga sebagai orang yang meringkas dari karya Yunani menjadi Rislah pedoman yang padat dan berisi, kebanyakan dari hasil tersebut adalah dari karyanya Aristoteles. Dalam literatur sejarah di katakan bahwa Al-Kindi sendiri sangat suka dengan pola pikir falsafatnya aristoteles_hingga hal inilah yang menjadi rujukan utama Al-Kindi dalam berfilsafat dengan bukti dari hasil karyanya sendiri
JIM Smart BBM
Al-Kindi mengatakan bahwa filsafat yang paling tinggi adalah berupaya mengetahui kebenaran yang paling pertama dan utama, itulah moral paling tinggi ilmu filsafat,  filosof sejati: mengetahui tentang kausa ‘Illat lebih utama di bandingkan mengetahui akibat, orang akan mengetahui sejara gamblang_sempurna setelah mengatahui tentang siapa yang menjadi kausanya.[32]
JIM Smart BBM
Al-Kindi menegaskan dengan teori falsafatNya bahwa ada tiga unsur pada manusia yang di golongkan dengan sebuah pengetahuan: pertama, Pengetahuan Indrawi, Kedua, pengetahuan yang di peroleh melalui akal_Indrawai, Ketiga, pengetahuan yang di peroleh langsung dari tuahan Isyraqi.[33] Setelah muncul pengetahuan yang di deefinisikan  oleh filsafat ilmu: denagn umum, maka Al-Kindi membagi Filsafat menjadi tiga bagian,  pertama, Thibbiyat (Ilmu fisika), sebagai tingkatan paling bawah dalah berfilsafat, kedua, Matematika (al-ilm-ur-riyadli) di katakan sebagai tingkatan tengah, Ketiga,  Ilmu ketuhanan (Rububiyahh). Suatu pertanyaan besar, kenapa Al-Kindi membagi pengetahuannya dengan tiga bahagian, karena, karena ilmu adakalnya dapat berhubungan dengan indra: Materi_Fisika dan adakalanya berhubungan dengan benda yang mempunyai wujut sendiri:Matematika yang terdiri dari ilmu hitung tehnik, astronomi dan music. Selain itu ada juga yang tidak berhubungan dengan indra­_Tidak berbenda yaitu masalah Ketuhanan.[34]
a.       Indrawi
Pengetahuan melalui indrawi tejadi secara langsung di saat mengamati materi-materi yang adi di sekeliling,[35] dalam garis besar: memikirkan apa yang ada di sekeliling tersebut, kemudian tanpa ruang dan waktu berpindah ke imajinasi (Musyawwirah) kemudia di tersukan kembali ke tempat penyempinannya: Hafizah (Recollectionn) Al-Kindi sendiri meengatakan bahwa pengetahuan yang di  peroleh dengan jalan  ini titak tetap di sebabkan karena objek yang menjadi sasaran dalam indra bisa_berubah, bergerak, berkurang dan bertambah baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya. Di katakan bahwa pengetahuan yang di hasilkan oleh indrawi ini tidak menggambarkan hakikiat dari suatu realitas yang di dekab oleh panca indra, di samping itu pengetahuan yang di hasilkan oleh panca indra berssifat persial. Pengetahuan indrawi hanya dekat dan identik dengan pengindra’annya saja (realitas) akan tetapi sangat jauh pada hakikat apa yang di dekab dari panca indar tersebut (HakikatNya).[36] Berbeda dengan Al-Gazali. Al-Gazali tidak percaya pada panca indra, dia lebih percaya dengan akal atau rasio akan tetapi akal pun juga tidak dapat di percaya kata Al-Gazali.[37]
b.      Pengetahuan Rasional
Al-Kindi mengatakan bahwa pengetahuan yang di peroleh oleh jalan menggunakan akal,[38] dengan alunan cara rasio yang benar maka muncullah pengetahuan yang bersifat universal, tidak parsial, dan bersifat immaterial. Obyek utama dari pengetahuan yang di lahirkan oleh rasio bukanlah individu tetapi; genus dan spesies, misal: sesorang mamandang manusia mempunyai mata, hidung, kulit, bulu, jantung, ini semua adalah hasil dari pandangan pengetahuan yang di lahirkan oleh panca indra berbeda hasil pengetahuan yang di lahirkan oleh rasio bahwa manusia pada_hakikatnya adalah sebagai makhluk ciptaan yang mempunyai akan dan perasaan yang telah memperoleh pengetahuan yang abstrak dan universal.
Al-Kindi menegaskan bahwa orang tidak harus mengacukan mitode yang ada dalam suatu ilmu, karena setiap ilmu ada mempunyai mitodenya masing-masing dengan ke akuratannya_suatu kesalahan jika manusia berupaya menggunakan mitode lain untuk memperoleh suatu pengetahuan, saya beri contoh; menggunakan mitode ilmu alam untuk merumuskan matemafisika.[39] Menurut Al-Kindi akal mempunyai sifat: akal yang paling utama, selamanya dalam aktualitas, merupakan spesies dan genus, membuat akan menjadi aktual berpikir dan tidak sama dengan akal potensial akan tetapi lain dari itu.[40]
JIM Smart BBM c.       Pengetahuan iIsyraki
JIM Smart BBM Al-Kindi mengatakan: bahwa pengetahuan yang di hasilkan oleh indrawi tidak akan sampai untuk mendapatkan hakikat dari segala aspek yang menjadi pengamatan_baik materi maupun metafisik.[41] Pengetahuan rasional terbatas di genus dan spesies, banyak sekali filosf yang membatahi pengetahuan pada dua jalan ini_Al-Kindi, sebagaimana halnya para filosof banyak memperingatkan bahwa ada jalan lain untuk mendapatkan hakikat pengetahun dnegan sebenarnya yaitu pengetahuan yang di hasilkan tanpa adanya dinding antara hamba dengan sang pencipta,[42] nur ilahiyat_yang memberi dan menyinari dengan cahaya keilmuan ilahiyat (Iluminasi).[43] Al-Kindi menyebutkan bahwa selain Nabi ada juga yang mendapatkan Isyraki tersebut yang walaupun_pada dasarnya berbeda dengan apa yang sudah di dapatkan oleh para Nabi_Nabi,[44] definnisi akhir dari maksur Al-Kindi mengenai Isyraki ini adalah; ilmu yang langsung (Isyraki) ini lebih benar dan akurat di bandingkan ilmu yang di peroleh oleh para Filosof.[45]
d.      Etika
Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, baik di bidang Sains maupun Anatomi, oleh sebab itulah Al_Kindi memberikan suatu pemikiran bagi kita tentang manusia. Menurutnya; Perbedaan manusia dengan makhluk yang  lain hanyalah pada garis “Budi Pekerti yang Terpuji”  dari sinilah Al-Kindi berangkat untuk pemahamannya, etika merupakan pondasi dasar bagi manusia, baik dari sisi kebijaksanaan, keberanian, dan kesucian (Ilmu dan amal).[46]
e.       Filsafat ketuhanan; Al-Kindi
Refrensi sebelumnya Al-Kindi di katakan sebagai figur yang sangat menempel dengan Aristoteles, bahkan gaya filsfat Al-Kindi di katakan sama dengan filsfatNya Arestoteles, akan tetapi pada sub ini Al-Kindi berlepas bahu dengan Arestoteles. Al-Kindi mengatakan bahwa tuhan itu adalah pengatur, pencipta alam semesta ini,  pencipta dan pengatur tidak sama dengan penggerak, apalagi pengatur yang tidak bergerak” sebagaimana pendapat Arestoteles. Al-Kindi juga mengatakan bahwa Tuhan adalah wujud yang sempurna yang wujudnya tidak di dahului oleh wujud siapapun, wujud yang lain di sebabkan oleh wujudnya.[47] Para Filosof Yunana mengatakan tentang kebenaran (Al-Haqq) kebenran menurut Yunani adalah;  lawan dari kebatilan,[48] kemudian datanglah Al-Kindi yang berpendapat bahwa; filsafat tentang ketuhanan (Kebenaran paling utama) inilah yang paling tinggi martabatnya.[49]
JIM Smart BBM Al-Kindi juga mengatakan bahwa alam yang sangat luas ini mempunyai dua hakikat yang akurat baginya_hakikat sebagai Juz’i dan hakikat sebagi Kulli  atau Aniah dan Mahiah, sedang tuhan tidak bersifat demikian, tuhan bukan materi yang emperik ini_alam, dan tidak pula tersusun dari materi dan tuhan tidak berbentuh dalam bentuk Mahiah karena tuhan tidak merupakan Genius dan Species.[50] Bagi AL-Kindi Tuhan hanya bisa di ungkapkan dengan sebuah kata “Tuhan Tidak Sama Dengan MakhlukNya” untu membuktikan bahwa Tuhan itu benar-benar ada, maka, Al-Kindi membagi dalam tiga teori; baharunya alam, keanekaragaman dalam wujud dan kerapian alam.[51]
Mengenai permasalahan sifat-sifat Tuhan, Al-Kindi mempunyai kesamamaan persepsi dengan aliran Mu’Tazilah yang mengedepankan sifat ke’esaan Tuhan sebagai zat satu-satunya “Esa”.[52]
F.     Agama VS Filsafat: Al-Kindi
Pada permasalah awal Al-Kindi mengatakan bahwa antara filsafat dan agama mempunyai sudut yang sama, pedapat ini oleh Dr. Hadariansyah di katan sebagai pendapat yang paling peting pada zamannya itu sebab_ketika itu para ulama beranggapan bahwa filsfat itu bertentangan dengan agama, kemudia Al-Kindi menegaskan bahwa filsfat tidak bertentangan dengan agama.[53] Inilah sosok Al-Kindi mulai di kenal banyak orang pada zamannya hingga ke dewasa ini.
Literatur ilmu,  Al-kindi membagi ilmu dengan dua kotak, “Ilmu Ilahi” dan “Ilmu Insani” Ilmu Ilahi adalah ilmu yang berasal dari tuhan yang bersumberkan dengan Wahyu yang di dapat para Nabi, dan inilha yang di sebut dengan agama,  sedamngkan ilmu Insani; ilmu yang di lahirkan oleh manusia yang berpondasikan dengan pikiran yang bersumberkkan dengan akal, inilah yang di sebut dengan Filsafat. Perbedaan agama dengan Filsfat hanya bertitik belakang yang berbeda, agama di kerankan_berrsumber dari wahyu maka, sudah tentu pasti, mutlak dan di ayakini kebenarannya. Sedangkan Filsfat yang bersumber asala pada manusia, maka, kebenaranya bersifat spekulatif_relatif.[54]
Selain itu, Al-Kindi juga mengatakan bahwa; agama mengajarkan kebenaran sedangkan filsafat_mencari kebenaran. Pada sudutyang berbeda yang inilah sebagai laras utama bagi Al-Kindi untuk mempertahankan argumennya menganai persama,an Filsafat dengan agama bahwa; agama mengajarkan tentang kebenaran utama, Al-Kindi menegaskan bahwa kebenaran utama itu adalah Tuhan, sedangkan filsfat pada dasarnya membahas yang namanya metefisika, dalam ruang ini Filsafat juga membahs tentang tuhan, dalam tanta kutip “apabila filsfat berhasil mencapai kebenaran, maka kebenran filsafat itu akan sama hasilnya dengan kebenaran dalam sudut agama”.[55]
Al-Kindi juga menegaskan bahwa; antara fislafat dengan agama tidak bertentangan dnegan agama_pada dasaranya demikian, karena; agama pada dasarya mempelajari trentang tuhan, pada agama, mempelajari tentang tuhan adalah korsi dewan tertinggi dalam kacamata islam, dalam sudud lain, filsfat juga mempelajarib tentang ketuhanan, di sini filsfat juga mengeluarkan sebuah teorii bahwa falsafah mengenai ketuhanan ini adalah korsi paling tinggi didalam area ke filsafatan[56]. Oleh karena itu berlajar filsfat itu sangat di perlukan dalam korsi apapun[57].
G.    Kritikan Terhadap Al-Kindi
Ilmu merupakan akar dasar bagi manusia dalam kondisi apapun, banyak sekali para ilmuan menggaris utamakan tentang apa sebenarnya arti atau devinisi ilmu pada alur ilmu itu sendiri, semua pendapat itu adalah benar, ketika persepsi tentang suatu benda, maka wajar perbedaan itu hadir menyela-nyela di antara persepsi lain. Ilmu-ilmu islam yang “ortodok” dalam garis besarnya; Faqh, Tauhid,  Tasauf.[58]
Sebuah kutipan yang nyata konon di kutip dari perkataan ilmuan kontemporer salah satunya adalah Hassan Hanafi_mengatakan bahwa; “Dengan nyata secara histores hilangnya pemikiran islam dalam konteks keilmuan islam sendiri” sejak zaman Al-Kindi hingga ke zaman dewasa ini, dalam konteks filsfat mereka hanya menyinggung dalam masalah mantiq, tabi’iyat dan Ilahiyyat. Sedangkan ilmu kemanusiaan dan sejarah lluput dari busur pemikiran meraka dalam konteks keseriyusan.[59]
Permaslahan lain, mengenai berbandingan antara aliran filsafat Al-Kindi dan Al-Farabi, yang menjadi sudud bahasan adalah konteks karya atau hasil dari dua filosof ini, Al-Farabi menggagas pengetahun dan merumuskannya dalam bentuk lengkap dan permanen dalam pusat peradaban islam, skema dan Struktur AL-farabi juga sangat oresontal dia lebih sesuai dengan epistemologi islam jika di bandingkan dengan Al-Kindi.[60]
H.    Kesimpulan
Beberapa pernyataan di atas mengaenai Al-Kindi ternya; Al-Kindi adalah sosok figur pertama dari golongan muslim yang merumuskan tentang filsfat pada zamannya dan AL-Kindi di kenal hingga dewasa sekarang, Al-Kindi mengusai berbagai macam ilmu, terutama di bidang filsfat, ada yang mengatakan bahwa filsafat Al-Kindi masih sebahu dengan Arestoteles, tetapi mengenai permasalahan metafisika maka, berbeda argumen filsafat dengan Arestoteles. Al-Kindi dalam bidang aksiologi membagi tiga kotak dalam berfilsafatnya, indra, rasio, dan laduni.
Permasalahan paling utama dalam sub ini adalah; integrasi filsfat dengan agama sebagaimana pendapat AL-Kindi, dengan hasil akhir bahwa filsfat itu sama dengan agama, agama tidakk akan berkembbang tanpa filsafat, dengan argumennya. Ajaran yang paling tinggi dalam agama adalah tentang ketuhanan,dan ajjaran filsafat yang paling tinggi juga masalah ketuhanan, dua ilmu ini mempunyai sudut yang sama. Sebuah kritikan yang panas terjadi oleh pemekir komtemmporer salah satunya adalah Hassan Hanafi;  beliyau melihat dengan nyata bahwa menghilangnnya nuansa pemmikiran “historis” dalam wacana keilmuan islam, sejak masa Al-Kindi sampai dewasa ini.





DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Amin, (2009). Falsafah Kalam di Era Postomodernisasi, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Amin Hoesin, Oemar, (1961). Filsfat Islam, Jakarta: Bulan Bintang.
Azhar Basyir, Ahmad, (1994). Refleksi atas Persatuan Keislaman, Seputar Filsafat, Hukum, Politik, dan Ekonomi, Bandung: Mizan.
bakar, Osman, (1998). Heirarki Ilmu, Membangun Rangka Pikir Islamisasi Ilmu, Bandung: Mizan.
Bakkry, Hasbullah, (1973). Di  sekitar Filsafa Skolastik Islam, Jakarta: Ttp.
Beerling, ( 1994). Filsafat Dewasa Ini, di terjemahkan oleh Hasan Amin, Jakarta; Balai Pustaka.
Britton, Karl, (1992). di terjemahkan oleh Inyiak Ridwan Muzir, Pholosophy and the Meaaning of Life,Filsafat Sebagai Lentera Kehidupan, Jogyakarta: Ar-Ruz Media.
Firdaus, Irfas,  (2010). Misteri Otak Tengah, Yogyakarta: Insania.
Fuad, Ahmad Al-Ahwani, (1994). Filsafat Islam, Jakarta: Pustaka Firdaus.
H.Hadariansyah, (2012). Pengantar Filsfat Islam, Mengenal Filosof-Filosof Muslim dan Filsfat Mereka, Banjarmasin: Kafusari Fress.
Hanafi, Ahmad, (1996). Pengantar filsafat Islam, Bandung: PT. Bulan Bintang.
Juaha S. Praja, (2009). Pengantar Filsafat Islam, Konesp, Filusuf dan Ajarannya. Bandung: CV. Pustaka Setia.
_______, (2003). Aliran-Aliran Filsafat dan Etika, Jakarta: Prenada Media.
Kattsoff, Lois O,  (1995). Pengantar Filsafat, di terjemahkan oleh Soerjono, Yogjyakarta: Tiara Wacana.
Maksum, Ali, (2009). Pengantar Filsafat, Dari masa Klasik Hingga Masa Postmodernisme, Jokjakarta: Ar-Ruz Media.
Mustofa, Ahmad, (1997). Filsafat Islam, Bandung: CV, Pustaka Setia.
Nassar, Seyyed Hosen, dan Leaman, Oliver, (Editor), (2003). E ksiklopeddi tematis Filsafat Islam, Bandung: Mizan.
Nasution, Hasyimsyah, (1998). Filsafat Ilmu, Jakarta: gaya Media Pratama.
Poerwantana, M. A Rosali, A. Ahmadi,  Seluk Beluk Filsafat, (Ttp).
Prawironegoro, Darsono, ( 2010). Filsfat Ilmu, Kajian tentang poengathuan yang disusun secara sistematis dan sistematik dalam membangun ilmu pengetahuan, Jakarta: Nusantara Consulting.
Ridah, Abu, (1950). Rasa’il Al-Kindi Al-Falsafiyah, Kairo: Ttp.
Sudarmita, J, (1991). Filsafat Proses, sebuah pengantar sistematik Fislafat AlFfred North Supadjar, Yogyakarta: Kanisius.
Sudarsono, (1997). Filsafat Islam, Jakarta: Rineka Cipta.
Syadali, Ahmad dan Muzdakkir, (1997). Filsafat Umum, Bandung: Pustaka Setia.


[1] Untuk Lebih sempurna lihat: Irfas Firdaus, Misteri Otak Tengah, (Yogyakarta: Insania, 2010),. h.1-80
[2] Untuk lebih jelas lihat: Karl Britton, di terjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Inyiak Ridwan Muzir, Pholosophy and the Meaaning of Life,Filsafat Sebagai Lentera Kehidupan, (Jogyakarta: Ar_Ruz Media,2009),. h. 9-30.
[3] Beerling, Filsafat Dewasa Ini, di terjemahkan oleh Hasan Amin, (Jakarta; Balai Pustaka, 1994),. h. 11.
[4] Beerling, Filsafat Dewasa Ini, . . . . . . h. 12.
[5] Darsono Prawironegoro, Filsfat Ilmu, Kajian tentang poengathuan yang disusun secara sistematis dan sistematik dalam membangun ilmu pengetahuan, (Jakarta: Nusantara Consulting, 2010),. h. 18.
[6] Beerling, Filsafat Dewasa Ini, . . . . . . h. 36.
[7] Ali Maksum, Pengantar Filsafat, Dari masa Klasik Hingga Masa Postmodernisme, (Jokjakarta: Ar-Ruz Media, 2009),. H. 24.
[8] Lois O. Kattsoff, Pengantar Filsafat, di terjemahkan oleh Soerjono, (Yogjyakarta: Tiara Wacana, 1995),. h. 87.
[9] Ali Maksum, Pengantar Filsafat, Dari masa Klasik Hingga, . . . . . . h. 25. Dan lihat juga, Oemar Amin Hoesin, Fislafat Islam, (Jakarta: Ttp, 1961),. h. 63.
[10] Ahmad Hanafi,  Pengantar filsafat Islam, (Bandung: PT. Bulan Bintang, 1996)., h. 7.
[11] Juhaya S. Praja, Pengantar Filsafat Islam, Konsep, Filsuf dan Ajarannya, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2009)., h. 50. Lihat juga; H. Ahmad Syadali dan Muzdakkir, Filsafat Umum, (Bandung: Pustaka Setia, 1997),. h. 165-167.
[12]Poerwantana, A. Ahmadi, M. A Rosali, Seluk Beluk Filsafat, (Ttp) ,. h. 128. Lihat juga; Oemar Amin Hoesin, Filsfat Islam, (Jakarta: Bulan Bintang,),. h. 63-86.
[13] Ahmad Fuad Al-Ahwani, Filsafat Islam, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1994),. h. 50.
[14] Ahmad Fuad Al-Ahwani, Filsafat Islam, . . . . . . h. 51.
[15] Dalam pandangan Ahmad Fuad Al-Ahwani Al_kindi menerjemahkan beberapa karaya dari filusof Yunani ke dalam bahasa Arab sendiri,  di samping itu Al-Kindi jua memperbaiki buku-buku terjemahan karena ke piawayannya dalam Berbahasa, seperti Theologis (Ar-Rububiyah) yang di terjemahkan oleh Ibnu Na’imah Al-Himshi dalam Filsafat Islam, h. 65.
[16] Juhaya S. Praja, Pengantar Filsafat Islam, Konsep, Filsuf, . . . . . . h. 51
[17] Juhaya S. Praja, Pengantar Filsafat Islam, Konsep, Filsuf, . . . . . . h. 51
[18] Ahmad Fuad Al-Ahwani, Filsafat Islam, . . . . . . h. 52
[19] Poerwantana, A. Ahmadi, M. A Rosali, Seluk Beluk Filsafat, . . . . . . h. 128.
[20] Ahmad Fuad Al-Ahwani, Filsafat Islam, . . . . . . h. 52.
[21] Ahmad Fuad Al-Ahwani, Filsafat Islam, . . . . . . h. 52
[22] Juhaya S. Praja, Pengantar Filsafat Islam, Konsep, Filsuf, . . . . . . h. 53.
[23] Untuk lebih teliti lihat: Ahmad Hanafi, Pengantar Filsafat Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1990),. H. 73. Dan lihat juga; H. Ahmad Syadali dan Muzdakkir, Filsafat Umum, . . . . . . h. 166.
[24] Juhaya S. Praja, Pengantar Filsafat Islam, Konsep, Filsuf, . . . . . . h. 53.

[25] Juhaya S. Praja, Pengantar Filsafat Islam, Konsep, Filsuf, . . . . . . h. 54.
[26] Sudarsono, Filsafat Islam, (Jakarta: Rineka Cipta, 1997),. h. 24.
[27] H. Ahmad Syadali dan Muzdakkir, Filsafat Umum, . . . . . . h. 167.
[28] Ahmad Azhar Basyir, Refleksi atas Persatuan Keislaman, Seputar Filsafat, Hukum, Politik, dan Ekonomi, (Bandung: Mizan, 1994,. h. 82.
[29] Ahmad Azhar Basyir, Refleksi atas Persatuan Keislaman, . . . . . . h. 82.
[30] Untuk lebih jelas silahkan buka: Seyyed Hosen Nassar dan Oliver Leaman (Editor), E ksiklopeddi tematis Filsafat Islam, (Bandung: Mizan, 2003),. h. 209.
[31] Lihat: Abu Ridah, Rasa’il Al-Kindi Al-Falsafiyah, (Kairo: Ttp, 1950),. h. 165-180.
[32]  Ahmad Mustofa, Filsafat Islam, (Bandung: CV, Pustaka Setia, 1997),. h. 104.
[33] Ahmad Mustofa, Filsafat Islam, . . . . . . h. 104
[34] Ahmad Hanafi, Pengantar Filsafat Islam, (Jakarta: Pt, Bulan Bintang, 1996),. h. 7.
[35] Sudarsono, Filsafat Islam, . . . . . . h. 27.
[36] Ahmad Mustofa, Filsafat Islam, . . . . . . h. 105.
[37] Juhaya S. Praja, Aliran-Aliran Filsafat dan Etika, (Jakarta: Prenada Media, 2003),. h. 203.
[38] Sudarsono, Filsafat Islam, . . . . . . h. 27-28.
[39] Ahmad Mustofa, Filsafat Islam, . . . . . . h. 105.
[40] Juhaya S. Praja, Aliran-Aliran Filsafat dan Etika, . . . . . . h. 201.
[41] Sudarsono, Filsafat Islam, . . . . . . h. 28.
[42] Ahmad Mustofa, Filsafat Islam, . . . . . . h. 106-108.
[43] Iluminasi bukanlah hal yang mudah, di perlukan kesucian hati dan diri untuk mendapatkan hal demikian, iluminasi bukanlah hal dongeng yang di ceritakan dalam komik-komik yang di hasilkan dari tangan dan hayalan para peseni belaka, iluminasi adalah hal yang nyata dan jelas, kesucian hatilah yang menjadi intuisi utama untuk mendapatkan cahaya ilahiyat, baik dalam aspek rajinnya ibadah dengan dekatnya diri_ke tuhan, maka inilah hilangnya space dan terbukanya hijab antara hamba dengan tuhannya.
[44] Ahmad Azhar Basyir, Refleksi atas Persatuan Keislaman, . . . . . . h.86.
[45] Untuk lebih jelas lihat: Hasbullah  Bakkry, Di  sekitar Filsafa Skolastik Islam, (Jakarta: Ttp, 1973),. h. 32.
[46] Ahmad Azhar Basyir, Refleksi atas Persatuan Keislaman, . . . . . . h. 88. Lihat Juga: Juhaya S. Praja, Aliran-Aliran Filsafat dan Etika, (Jakarta: Prenada Media, 2003),. h. 197-200.
[47] H.Hadariansyah, Pengantar Filsfat Islam, . . . . . . h. 24.
[48] Ahmad Fuad Al-Ahwani, Filsafat Islam, . . . . . . h. 54.
[49] Ahmad Azhar Basyir, Refleksi atas Persatuan Keislaman, . . . . . . h. 86.
[50] H.Hadariansyah, Pengantar Filsfat Islam, . . . . . . h. 25. Lihat Juga: J. Sudarmita, Filsafat Proses, sebuah pengantar sistematik Fislafat AlFfred North Supadjar, (Yogyakarta: Kanisius, 1991),. h. 39.
[51] Hasyimsyah Nasution, Filsafat Ilmu, (Jakarta: gaya Media Pratama),. h. 20.
[52] Ahmad Azhar Basyir, Refleksi atas Persatuan Keislaman, . . . . . . h. 87.
[53] H.Hadariansyah, Pengantar Filsfat Islam, Mengenal Filosof-Filosof Muslim dan Filsfat Mereka, (Banjarmasin: Kafusari Fress, 2012),. h. 18-19.
[54] H.Hadariansyah, Pengantar Filsfat Islam, . . . . . . h. 19.
[55] H.Hadariansyah, Pengantar Filsfat Islam, . . . . . . h. 20.
[56] H.Hadariansyah, Pengantar Filsfat Islam, . . . . . . h. 22.
[57] H.Hadariansyah, Pengantar Filsfat Islam, . . . . . . h. 23.
[58] [58] M. Amin Abdullah, Falsafah Kalam di Era Postomodernisasi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009),. h. 22.
[59] M. Amin Abdullah, Falsafah Kalam di Era, . . . . . . h. 23.
[60] Osman bakar, Heirarki Ilmu, Membangun Rangka Pikir Islamisasi Ilmu, (Bandung: Mizan, 1998),. h. 150.